|
Kota Palu merupakan Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah dengan luas wilayah 395,06 km2. Secara administratif Kota Palu terbagi dalam 4 kecamatan dan 43 kelurahan yaitu kecamatan Palu Barat, kecamatan Palu Selatan, kecamatan Palu Timur dan kecamatan Palu Utara. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Kota Palu mencapai 335.297 jiwa, terdiri dari laki-laki 169.207 jiwa dan perempuan 166.090 jiwa dengan sex rasio 102 persen, dengan tingkat kepadatan 794 jiwa per km2. Sebaran kepadatan penduduk tertinggi berada di wilayah kecamatan Palu Selatan dan yang terendah di wilayah kecamatan Palu Timur. Ciri akulturatif Kota Palu menunjukkan heterogenitas warganya. Penduduk Kota Palu terdiri dari berbagai macam suku, ras dan agama. Agama Islam dianut oleh sebagian besar penduduknya 80,25 persen, Kristen 13,70 persen, Katolik 2,67 persen, Hindu 0,99 persen dan Budha 2,39 persen. Sedangkan suku asli yang mendiami Lembah Palu sebagian besar suku Kaili. Potensi Daerah Pada Tahun 2009 produksi Kakao Kota Palu diperkirakan sebesar 56 ton dengan luas tanam 168 Ha. Produksi Kakao tersebut disuplai oleh 3 (tiga) kabupaten terbesar sebagai penghasil Kakao di Sulawesi Tengah yaitu Kabupaten Donggala, Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso. Sebagai komoditi yang menjadi fokus produk unggulan, capaian nilai ekspor Kakao yang keluar dari pintu pelabuhan Pantoloan mencapai 120.000 ton hingga 180.000 ton. Jumlah produksi Perkebunan Kelapa meningkat sebesar 296 ton dengan luas areal tanam sebesar 276 ha, dibanding tahun 2008 yang hanya mencapai 203 ton dengan luas areal tanam 246 ha, dengan peningkatan produksi 0,5 persen. Perkebunan Kelapa menyebar di seluruh wilayah kecamatan di Kota Palu. Luas kawasan hutan di Kota Palu adalah 17.306 Ha, yang terdiri atas Taman Hutan Rakyat (Tahura) seluas 5.789 Ha, Hutan Lindung seluas 7.141 Ha, dan Hutan Produksi Terbatas 4.376 Ha. salah satu hasil hutan yang juga merupakan komoditas unggulan Kota Palu yaitu rotan.
Rotan merupakan kompetensi inti Kota
Palu. Beberapa jenis rotan khas (endemik) yang diminati pasar domestik
dan internasional adalah jenis Lambang Batang, Tohiti, Tohiti Noko dan
beragam jenis lainnya. Produksi Rotan Kota Palu mencapai 200 ton hingga
300 ton per tahunnya, dengan luas kawasan hutan yang ditumbuhi
diperkirakan seluas 4.000 Ha, dan menyebar di Kelurahan Kawatuna dan
Kelurahan Poboya. Produksi Rotan Kota Palu termasuk besar mengingat
produksi Rotan secara nasional mencapai 750 ton per tahun.
Bawang Goreng Kota Palu merupakan bawang
khas dengan aroma rasa yang gurih. Bawang ini diberi nama Varietas
Bawang ’Primadona’ Palu yang sangat diminati oleh para wisatawan baik
domestik maupun mancanegara. Luas panen Bawang tahun 2009 sebesar 163 Ha
dengan produksi 6.526 ton, dengan rata-rata hasil produktivitas lahan
40,04 kw/ha. Selain bawang goreng juga tersedia varietas Nangka Palu
dalam bentuk kripik nangka yang menjadi cinderamata khas Kota Palu.
Luas perairan Teluk Palu yang berada dalam wilayah pengelolaan Pemda Kota Palu adalah 189 km2. Produksi perikanan laut di Kota Palu Tahun 2009 sebesar 2.789,5 ton dengan nilai produksi 57,779 miliar rupiah.
Jenis kegiatan budidaya di perairan
Teluk Palu yaitu budidaya ikan dengan metode: (1) Keramba Jaring Apung
(KJA) dan Sawah capaian produksinya 0,16 ton dengan nilai produksi Rp.
6.000.000,- ; (2) Budidaya laut dan kolam capaian produksi 266,30 ton
dengan nilai produksi 1,674 miliar rupiah.
Sektor Peternakan merupakan salah satu potensi unggulan di Kota Palu. Pada tahun 2009 Populasi ternak terbesar adalah Kambing yaitu 134.424 ekor, Domba yaitu 22.519 ekor, Sapi yaitu 8.531 ekor. Sedangkan populasi unggas yang terbesar yaitu Ayam pedaging 3.766.350 ekor dengan produksi daging 4.281,59 ton, Ayam Kampung 737.774 ekor dengan produksi daging 2.004,9 ton dan produksi telur 442,66 ton, Ayam Ras Petelur 159.260 ekor dengan produksi daging 69,67 ton dan produksi telur 1.793,4 ton, dan Itik 2.579 ekor dengan produksi daging 0,98 ton dan produksi telur 70,23 ton.
Potensi tambang di Kota Palu yang sudah
dieksploitasi yaitu tambang galian pasir, batu dan kerikil (sirtukil)
melalui izin kategori Galian C seluas 60 Ha dari total 220 Ha yang
dicadangkan. Wilayah yang telah dieksploitasi diantaranya adalah Sungai
Lambagu, Sungai Njoli, Bukit Poilina, Sungai Nggolo, perbukitan Daenusa,
Sungai Wala, Sungai Palupi, Sungai Taipa, Sungai Tawaeli dan Bukit
Buluripipi. Potensi lainnya seperti Gips juga tersebar di sejumlah titik
di Kota Palu (Kelurahan Tondo dan Layana Indah) Kecamatan Palu Timur,
Tanah Urug di Kecamatan Palu Timur dan Palu Selatan dan potensi tambang
emas di Kelurahan Poboya.
Jumlah perusahaan industri di Kota Palu tahun 2009-2010 sebanyak 374 perusahaan, yang terdiri atas 313 perusahaan industri kecil, 44 perusahaan industri menengah dan 17 perusahaan industri besar. Semua dari jenis perusahaan industri itu telah mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 17.298 orang. Hal ini berdampak positif pada peningkatan nilai tambah sektoral terhadap pendapatan regional Kota Palu.
Nilai tambah di sektor industri
pengolahan mengalami peningkatan dari Rp. 610.189.000.000,- tahun 2008
menjadi Rp. 672.287.000.000,- pada tahun 2009 (10,18 persen). Hasil ini
diikuti meningkatnya nilai Produk Domestik Regional Bruto berdasarkan
harga berlaku dari Rp. 4.655.152.000.000,- tahun 2008 menjadi Rp.
5.332.677.000.000,- tahun 2009 (14,55 persen).
Neraca perdagangan Kota Palu menunjukkan angka surplus. Pada tahun 2009 neraca perdagangan Kota Palu di sisi ekspor mencapai US$ 210.194,98 ribu dan nilai impor sebesar US$ 0,02 ribu.
Kota Palu terdapat 12 pasar tradisional
dan 12 pusat perbelanjaan modern yang lokasinya menyebar di empat
kecamatan. Salah satu dari pusat perbelanjaan modern yang dibanggakan
warga Kota Palu adalah Mall Tatura Palu (MTP) di jalan Emmy Saelan.
Terdapat beragam pilihan berwisata di Kota Palu. Salah satunya adalah
wisata bahari. Beberapa titik lokasi wisata bahari di Kota Palu antara
lain di Taman Ria, Pantai Talise, Pantai Mamboro dan Pantai Tumbelaka.
Lokasi-lokasi tersebut berada di sepanjang garis pesisir Teluk Palu.
Selain wisata bahari, pilihan wisata
kuliner khas Kota Palu juga tersedia. Wisatawan dapat mencicipi makanan
khas seperti Kaledo yang sajiannya berupa kuah sejenis sup dengan bahan
utama daging sapi pada bagian kaki dan disajikan bersama ubi kayu,
jagung maupun nasi putih. Pilihan lainnya adalah Uve Mpoi, air kuah
dengan rasa asam pedas yang khas. Bahan utama adalah daging sapi yang di
iris kecil-kecil, dapat dinikmati bersama burasa (beras yang disantan
dan dimasak dengan cara direbus. Beras dibungkus dengan daun pisang
muda). Pilihan kuliner lainnya adalah Uta Dada. Jenis makanan ini
serupa kari atau opor dengan bahan utama daging ayam dan disajikan
bersama ketupat.
Salah satu masakan yang menjadi hidangan
favorit warga Kota Palu lainnya adalah Sayur Kelor. Sayur yang
berbahan dasar dari daun kelor, dimasak dengan santan kelapa. Sayur
kelor ini sering disantap bersama tumis ikan teri yang diracik pedas
(Duo) atau dengan Palumara, yaitu kuah asam dengan bahan dasar daging
atau ikan.
(Sumber: Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah)
|
Kamis, 12 Januari 2012
Kota Palu
Kabupaten Sigi
| Kabupaten Sigi |
|
|
|
|
Secara administratif, luas wilayah Kabupaten Sigi adalah 5.706,88 Km2 yang terbagi atas 15 kecamatan yaitu Kecamatan Sigi Biromaru, Kecamatan Palolo, Kecamatan Gumbasa, Kecamatan Kulawi, Kecamatan Kulawi Selatan, Kecamatan Pipikoro, Kecamatan Dolo, Kecamatan Dolo Selatan, Kecamatan Tanambulava, Kecamatan Marawola, Kecamatan Lindu, Kecamatan Dolo Barat, Kecamatan Marawola Barat, Kecamatan Kinovaro dan Kecamatan Nokilalaki. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 oleh BPS, jumlah Penduduk Kabupaten Sigi mencapai 214.700 jiwa, terdiri laki-laki 110.530 jiwa dan perempuan 104.170 jiwa, dengan sex rasio 106 dan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 36 jiwa/km2 serta tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,14 persen. Pendidikan merupakan hal yang sangat urgen dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat. Untuk mendukung hal tersebut sarana dan prasarana sangat menunjang. Hingga tahun 2009, sarana dan prasarana pendidikan yang terdapat di Kabupaten Sigi adalah: a. Jumlah TK sebanyak 103 unit, guru sebanyak 350 orang dan siswa sebanyak 2.884 orang. b. Jumlah SD sebanyak 245 unit, guru sebanyak 2.478 orang dan siswa sebanyak 24.701 orang. c. Jumlah SLTP sebanyak 46 unit, guru sebanyak 908 orang dan siswa sebanyak 6.343 orang. d. Jumlah SMK sebanyak 3 unit, guru sebanyak 74 orang dan siswa sebanyak 463 orang. Potensi Daerah Kabupaten Sigi Sektor Pertanian di Kabupaten Sigi cukup memberikan kontribusi yang signifikan dalam perekonomian daerah dan memegang peranan penting dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat. Sektor pertanian adalah penyumbang terbesar terhadap pembentukan PDRB yaitu 52,58 persen. Sektor perkebunan di Kabupaten Sigi memiliki beberapa komoditi unggulan antara lain: a. Kakao; pada tahun 2009, produksi kakao sebesar 12.383 ton, dengan luas areal tanam 15.039 Ha. b. Kelapa; pada tahun 2009, produksi kelapa sebesar 9.084 ton, dengan luas areal tanam 5.339 Ha. c. Kopi; pada tahun 2009, produksi kopi sebesar 3.711 ton, dengan luas areal tanam 5.942 Ha. d. Cengkeh; pada tahun 2009, produksi cengkeh sebesar 139 ton, dengan luas areal tanam 1.191 Ha. e. Vanili; pada tahun 2009, produksi vanili sebesar 95 ton, dengan luas areal tanam 223 Ha. f. Kemiri; pada tahun 2009, produksi kemiri sebesar 48 ton, dengan luas areal tanam 314 Ha. Sektor peternakan di Kabupaten Sigi tersebar di seluruh wilayah kecamatan, yang terdiri dari: a. Ternak besar dengan populasi sebanyak 192.571 ekor. b. Ternak kecil dengan populasi sebanyak 2.041.153 ekor. c. Unggas dengan populasi sebanyak 2.488.071 ekor.
(Sumber: Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah)
|
Kabupaten Parigi Moutong
| Kabupaten Parigi Moutong |
|
Saat ini Kabupaten Parigi Moutong terdiri atas 20 kecamatan dan 175 desa serta 5 kelurahan, dengan luas wilayah 6.231,85 km2. Secara administrasi hingga tahun 2009 kabupaten Parigi Moutong memiliki 20 kecamatan, 175 kelurahan/desa. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 oleh BPS, jumlah penduduk Kabupaten Parigi Moutong mencapai 413.645 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 212.729 jiwa dan perempuan 200.916 jiwa dengan sex rasio 106 dan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 61 jiwa/Km2.
Potensi Daerah Kabupaten Parigi Moutong
Kabupaten Parigi Moutong merupakan salah satu daerah agraris di Sulawesi Tengah sehingga sektor petanian merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam roda perekonomian daerah dan merupakan penyumbang terbesar terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu sebesar 52,98 persen. Komoditas perkebunan yang telah dikembangkan terdiri dari kakao, kelapa, cengkeh, kopi, kapuk, kemiri dan jambu mete. Pada tahun 2009 komoditas yang paling banyak dihasilkan adalah kakao sebesar 73.568 ton dengan luas areal tanam 65.565 Ha, produksi kelapa mencapai 41.600 ton dengan luas areal tanam 24.906 Ha, produksi cengkeh mencapai 875 ton dengan luas areal tanam 3.357 Ha, produksi kopi mencapai 358 ton dengan luas areal tanam 327 Ha, produksi kapuk mencapai 171 ton dengan luas areal tanam 379 Ha, produksi kemiri mencapai 180 ton dengan luas areal tanam 260 Ha, produksi jambu mete mencapai 130 ton dengan luas areal tanam 864 Ha. Kabupaten Parigi Moutong memiliki areal hutan seluas 396.236 Ha, terdiri dari hutan lindung 162.640 Ha, hutan produksi biasa tetap 22.467 Ha, hutan produksi terbatas 127.607 Ha, hutan yang dapat dikonversi 22.808 Ha, hutan suaka alam dan hutan wisata 60.714 Ha. Jenis kayu yang dihasilkan terdiri dari meranti, palapi, nyatoh, motoa, cempaka, rimba campuran, rotan dan damar. Ternak kambing merupakan populasi yang cukup besar di Kabupaten Parigi Moutong disamping ternak lainnya. Pada tahun 2009, ternak kambing populasinya mencapai 28.351 ekor, ternak sapi dengan populasi 24.670 ekor, ternak babi dengan populasi 560 ekor dan ternak kuda dengan populasi 377 ekor. Sedangkan ternak ayam kampung, pada tahun 2009 populasinya mencapai 320.091 ekor, ayam pedaging sebanyak 342.304 ekor, ayam ras petelur sebanyak 12.581 ekor dan populasi ternak itik sebanyak 29.260 ekor. Jumlah potensi lestari di Kabupaten Parigi Moutong yang terkandung dalam wilayah laut khusus Teluk Tomini mencapai 68.000 ton/tahun, terdiri dari ikan pelagis (3,2 ton/km2 per tahun) dan ikan demersal (2,9 ton/Km2 per tahun). Dari luas areal penangkapan yang mencapai 28.208 Km2, baru berproduksi sekitar 21.072,2 ton/tahun yang berarti baru 30,9 persen dari jumlah potensi lestari. Belum optimalnya pemanfaatan potensi perikanan tangkap disebabkan masih kecilnya jumlah armada yang beroperasi serta masih sederhananya teknologi yang digunakan. Pada tahun 2009 produksi perikanan tangkap laut dan umum mencapai 23.583,13 ton dengan nilai produksi sebesar Rp. 267.913.000.000,-, produksi perikanan budidaya tambak mencapai 1.188,70 ton dengan nilai produksi Rp. 49.166.000.000,-, produksi perikanan budidaya laut mencapai 7.886,50 ton dengan nilai produksi Rp. 24.920.000.000,- dan produksi perikanan budidaya kolam mencapai 92,60 ton dengan nilai produksi sebesar Rp. 1.452.000.000,-. Pariwisata Adapun objek wisata yang sementara dikelola dan dikembangkan di Kabupaten Parigi Moutong antara lain:
|
Kabupaten Donggala
| Kabupaten Donggala |
Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 oleh BPS, jumlah penduduk Kabupaten Donggala mencapai 277.236 jiwa yang terdiri dari laki-laki 142.179 jiwa dan perempuan 135.057 jiwa, dengan tingkat sex rasio 105 dan tingkat kepadatan penduduk rata-rata mencapai 57 jiwa/Km2. Potensi Daerah Kabupaten Donggala Sektor petanian merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam perekonomian daerah dan merupakan penyumbang terbesar terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Donggala yaitu sebesar 43,95 persen. Kabupaten Donggala memiliki kekayaan hayati yang beragam, salah satunya adalah jenis sayur-sayuran yang tumbuh subur di wilayah ini. Produksi sayur-sayuran di daerah ini cukup besar. Bawang merah merupakan komoditi sayuran dengan total produksi terbesar yakni 52.603 ton, disusul lombok dengan total produksi 47.509 ton, tomat dengan total produksi 33.053 ton, kacang-kacangan dengan total produksi terbesar yakni 30.137 ton, terung dengan total produksi terbesar yakni 28.823 ton dan ketimun dengan total produksi terbesar yakni 22.156 ton dengan total produksi terbesar yakni 52.603 ton.
Komoditas perkebunan yang dikembangkan
dan merupakan produk andalan Kabupaten Donggala antara lain kelapa,
kakao, kelapa sawit, cengkeh, kopi, lada dan jambu mete. Pada tahun 2009
komoditas yang paling banyak dihasilkan adalah kelapa sebesar 47.482
ton dengan luas areal tanam 27.712 Ha, produksi kakao mencapai 30.828
ton dengan luas areal tanam 30.005 Ha, produksi kelapa sawit mencapai
24.860 ton dengan luas areal tanam 6.837 Ha, produksi cengkeh mencapai
907 ton dengan luas areal tanam 4.229 Ha, produksi kopi mencapai 371 ton
dengan luas areal tanam 772 Ha dan produksi lada mencapai 202 ton
dengan luas areal tanam 331 Ha dan produksi jambu mete mencapai 163 ton
dengan luas areal tanam 1.468 Ha.
Kabupaten Donggala memiliki areal hutan seluas 708.078 Ha, terdiri dari hutan lindung 232.995 Ha, hutan produksi biasa tetap 11.624 Ha, hutan produksi terbatas 294.427 Ha, hutan yang dapat dikonversi 33.296 Ha, hutan suaka alam dan hutan wisata 135.736 Ha. Kontribusi sub sektor kehutanan terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Donggala mencapai 2,40 persen. Jenis kayu yang dihasilkan terdiri dari meranti, palapi, nyatoh, motoa, cempaka, dan rimba campuran, selain itu terdapat juga rotan dan damar.
Populasi ternak yang terbesar di
Kabupaten Donggala adalah sapi dan kambing. Pada tahun 2009, ternak sapi
populasinya mencapai 44.432 ekor, ternak kuda dengan populasi 622 ekor,
ternak kerbau dengan populasi 398 ekor, ternak kambing dengan populasi
41.796 ekor, ternak babi dengan populasi 28.215 ekor dan ternak domba
dengan populasi 2.435 ekor. Sedangkan ternak ayam kampung, pada tahun
2009 populasinya mencapai 448.265 ekor dengan produksi telur sebesar
268,96 ton, populasi ayam pedaging 1.424.002 ekor, populasi ayam ras
petelur sebanyak 353.581 ekor dengan produksi sebesar 3.981,61 ton dan
populasi ternak itik 7.380 ekor dengan produksi telur sebesar 116,99
ton.
Pada tahun 2009 produksi perikanan tangkap laut dan umum mencapai 27.113,50 ton dengan nilai produksi sebesar Rp. 54.016.000.000,-, produksi perikanan budidaya tambak mencapai 489,60 ton dengan nilai produksi Rp. 23.693.000.000,-, produksi perikanan budidaya laut mencapai 1.293,7 ton dengan nilai produksi Rp. 55.627.000.000,- dan produksi perikanan budidaya kolam mencapai 2.781 ton dengan nilai produksi sebesar Rp. 55.627.000.000,-. Pariwisata Donggala adalah sebuah kota tua yang terletak ± 34 Km timur laut dari Kota Palu. Dengan arsitektur Belanda yang masih menghiasi kota, Donggala juga mempunyai banyak obyek wisata yang sangat indah dan menarik untuk dikunjungi, antara lain Pantai Tanjung Karang, Pusentasi (kolam air asin), Air Terjun Pawelua, Pulau Pasoso, dll. Selain wisala daratan, perairan Donggala juga memiliki pemandangan bawah laut yang sangat indah dan baik untuk lokasi penyelaman (diving) antara lain di: Runeh Bupoti, Enu, Pasi pome, Batu Suya dan Atoll Besar. Wisatawan yang berkunjung juga dapat membeli oleh-oleh berupa Kain Tenun Donggala, dengan sentra produksinya antara lain di Desa Towale. Kain tenun Donggala atau sarung sutra Donggala merupakan salah satu hasil kerajinan tradisional Kabupaten Donggala yang sudah terkenal di seluruh Nusantara. Dikatakan tenun tradisional, karena proses pembuatannya dilakukan secara tradisional dengan peralatan yang tradisional dilakukan oleh kaum perempuan di Donggala.
(Sumber: Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah)
|
Kabupaten Tojo Una-Una
Kabupaten Tojo Una-Una
Kabupaten
Tojo Una‐Una sebelumnya merupakan bagian Kabupaten Poso yang dimekarkan
berdasarkan Undang‐Undang No. 32 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003
dan peresmiannya dilaksanakan di Jakarta oleh Menteri Dalam Negeri atas
nama Presiden Republik Indonesia pada tanggal 7 Januari 2004 bersamaan
dengan 24 kabupaten lainnya di mekarkan saat itu. Kabupaten Tojo Una‐Una
awalnya memiliki 8 kecamatan yang membawahi 6 kelurahan, 94 desa
definitif 16 desa persiapan dan 2 desa yang berstatus UPT, sejak tahun
2005 terjadi pemekaran kecamatan sehingga kecamatan keseluruhan menjadi 9
dengan 6 kelurahan serta 111 desa dan 2 UPT.
Wilayah
Kabupaten Tojo Una‐Una terdiri atas wilayah daratan dan wilayah
kepulauan dengan luas wilayah daratan 5.721,51 km2 atau 572.151 Ha dan
luas laut 3.566,21 km2, dengan panjang pantai + 951,115 km yang mana
wilayah daratan terdiri dari 5 (lima) Kecamatan yakni Kecamatan Tojo,
Kecamatan Tojo Barat, Kecamatan Ulubongka, Kecamatan Ampana Kota dan
Kecamatan Ampana Tete serta wilayah kepulauan terdiri dari 4 kecamatan
yang terdiri dari Kecamatan Una – Una, Kecamatan Togean, Kecamatan Walea
Kepulauan dan Kecamatan Walea Besar.
Geografis
Kabupaten Tojo Una‐Una memiliki wilayah geografis
yang terbentang pada koordinat 00 06’ 56” sampai 020 01’41” LS dan 1210
05’ 25” sampai 1230 06’ 17” BT, bila ditinjau dari letak astronomis
estimasi panjang wilayah Kabupaten Tojo Una‐Una yang membujur antara
1210 05’ 25” ‐ 1230 06’ 17” BT mencapai 212 Km, sedangkan lebarnya yang
melintang pada koordinat 00 06’ 56” ‐ 020 01’41” LS diperkirakan
mencapai jarak sekitar 89 Km.
Aspek geografis
membagi wilayah Kabupaten Tojo Una‐Una menjadi 2 (dua) yaitu wilayah
daratan dan wilayah kepulauan. Wilayah daratan meliputi 5 (lima)
kecamatan yang sebagian besar merupakan wilayah pesisir pantai.
Sedangkan wilayah kepulauan yang terdiri dari 4(empat) kecamatan
merupakan gugusan pulau‐pulau nan eksotik yang berjumlah 81 pulau dan 41
pulau diantaranya berpenghuni. Bagian paling utara Kabupaten Tojo
Una‐Una terdapat Kecamatan Walea Besar dan Kecamatan Una‐Una yang
terdiri dari 7 pulau besar. Di bagian selatan dan barat terdapat
Kecamatan Tojo Barat, dan Kecamatan Ampana Tete merupakan Kecamatan
paling timur di Kabupaten Tojo Una‐Una.
Berdasarkan
posisi di permukaan bumi Kabupaten Tojo Una‐Una terletak pada pesisir
pantai yang terletak di perairan teluk tomini dan Kawasan lainnya
meliputi kawasan hutan dan lembah pegunungan. Secara geologis wilayah
Kabupaten Tojo Una‐Una terletak pada lipatan Fennema dan Tineba yang
terbentang di bagian barat, Pegunungan Tokolekaju di bagian barat daya,
deretan pegunungan Verbeek di bagian tenggara dan pegunungan Lumut di
bagian timur laut.
Kabupaten Tojo Una‐Una
merupakan Kabupaten termuda di Sulawesi Tengah yang terdiri dari 9
Kecamatan dengan luas wilayah daratan sekitar 5.721,51 Km² atau 8,41 %
dari luas daratan Propinsi Sulawesi Tengah. Secara administratif wilayah
Kabupaten Tojo Una‐Una berbatasan langsung dengan:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Teluk Tomini dan Propinsi Gorontalo - Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Tomini dan Kecamatan Bunta Kabupaten Banggai
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bungku Utara, Kecamatan Petasia dan Kecamatan Mori Atas Kabupaten Morowali
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Pamona Utara dan Kecamatan Lage Kabupaten Poso serta Teluk Tomini
Wilayah
Kabupaten Tojo Una‐Una sebagian besar merupakan kawasan pegunungan dan
perbukitan, sehingga ketinggian wilayah pada umumnya berada diatas 500
meter dari permukaan laut. Tingkat kemiringan tanah/lereng antara datar
sampai dengan Sangat curam dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
- Kemiringan 0 – 2 % (datar agak landai), tersebar di seluruh kecamatan khususnya kecamatan Ampana Kota
- Kemiringan 3 – 15 % (landai agak miring), tersebar hampir di seluruh kecamatan
- Kemiringan 16 – 40 % (miring agak curam), terdapat hampir di seluruh kecamatan
- Kemiringan lebih dari 40 % (sangat curam), merupakan bagian terluas dari seluruh wilayah di Kabupaten Tojo Una‐Una
Jenis
tanah yang ada di wilayah Kabupaten Tojo Una – Una, umumnya terbagai
dalam tiga kelompok besar yaitu Aluvial yang terdapat di wilayah
Kecamatan Tojo, Podsolik Coklat Kelabu dan Rezinalatosol yang tersebar
di bagian selatan Kecamatan Ampana Tete dan Podsolik Merah Kuning ,
Litosol dan Ragosol yang tersebar di hampir seluruh wilayah daratan
kabupaten ini. Jenis tanah di daerah ini terbentuk dari lapisan kelompok
jenis batuan dengan ciri‐ciri dan penyebarannya sebagai berikut :
- Batuan Skiss, terdapat di wilayah kecamatan Tojo dan Tojo Barat
- Batuan Basik, Ultra Basik dan Sedium, jenis batuan ini banyak terdapat di kecamatan Tojo, Ulubongka, Ampana Tete dan Ampana Kota
Kabupaten
Tojo Una‐Una memiliki keragaman flora yang luar biasa, sebagian besar
ditumbuhi hutan dengan vegetasi kayu‐kayuan yang diselingi belukar,
selebihnya ditumbuhi padang rumput yang bersinergi indah dengan
pepohonan ditepian sungai. Pada hutan produksi biasa dan produksi
terbatas banyak ditumbuhi jenis kayu dan hasil hutan lainnya seperti:
- Kayu Agathis, Meranti, dan Rotan terdapat di sebagian besar kecamatan yang berada di daratan - Kayu Hitam (Ebony) di wilayah kecamatan Tojo dan Tojo Barat
- Kayu Besi, di wilayah kecamatan Ampana Kota, Tojo, Tojo Barat, Ampana Tete, Una‐Una dan Walea Kepulauan
- Damar, terdapat di sebagian besar kecamatan yang berada di daratan
Selain
itu masih banyak ditemukan berbagai species tumbuh‐tumbuhan berkualitas
tinggi seperti kemiri, kenari, rambutan, kulahi, melinjo, leci, aren
dan pakis haji. Sedangkan untuk fauna kabupaten Tojo Una‐Una memiliki
jenis binatang yang beraneka ragam mulai dari hewan ternak hingga
beberapa jenis hewan satwa langka seperti anoa, babi rusa, monyet hitam
sulawesi, kuskus, kucing hutan serta burung maleo.
Selain
memiliki keragam flora dan fauna yang berada di darat, kehidupan bawah
laut perairan kabupaten Tojo Una‐Una juga memiliki keanekaragaman dan
nilai eksotis tinggi yang sangat terkenal tidak hanya dalam skala
nasional namun sampai ke mancanegara. Keindahan dan keanekaragaman
species terumbuh karang menarik minat para wisatawan asing untuk
melakukan penyelaman dan penelitian biota laut. Kekayaan lain yang
terdapat di perairan teluk tomini yang masuk wilayah Kabupaten Tojo
Una‐Una dan tidak kala pentingnya adalah berbagai species ikan yang
berkualitas ekspor, serta budidaya berbagai jenis kerang mutiara dan
rumput laut.
Selanjutnya dari aspek hidrologi
umumnya sungai‐sungai besar di wilayah Kabupaten Tojo Una‐Una mengalir
sepanjang tahun. Sungai-sungai tersebut antara lain Sungai Balingara
yang membagi Kabupaten Tojo Una‐Una dengan Kabupaten Banggai dan Sungai
Malei yang membagi Kabupaten Tojo Una‐Una dengan Kabupaten Poso.
Sungai‐sungai lain yang juga mengalir sepanjang tahun antara lain Sungai
Tojo di Kecamatan Tojo, Sungai Ulubongka di Kecamatan Ulubongka, Sungai
Ampana di Kecamatan Ampana Kota dan Sungai Sabo di Kecamatan Ampana
Tete.
Tabel 1: Nama Nama Sungai di Kabupaten Tojo Una-Una
| No | Nama Kecamatan | Nama Sungai |
| 1 | 2 | 3 |
| 1 | Tojo Barat | Sungai Malei Sungai Bambalo Sungai Cinili Sungai Tombiano Sungai Kabalo |
| 2 | Tojo | Sungai Konori Sungai Tutua Sungai Pondo Sungai Betaua Sungai Tojo Sungai Masologi Sungai Pancuma Sungai tongku Sungai Podi |
| 3 | Ulubongka | Sungai Bongka |
| 4 | Ampana Kota | Sungai Podimauti Sungai Ampana |
| 5 | Ampana Tete | Sungai Borone Sungai Padanguloyo Sungai Balanggala Sungai Sabo Sungai Balingara |
Ditinjau
dari klimatologi Kabupaten Tojo Una‐Una dikenal dengan iklim hujan
tropis karena pada bagian utara wilayah ini dilalui oleh garis
katulistiwa, sementara secara umum suhu udara rata‐rata maksimum 31,77°C
dan suhu udara minimum 22,4°C untuk suhu udara di daerah pantai dan
kepulauan rata‐rata diperkirakan sekitar 26°C dan di daerah pedalaman
dengan dataran tinggi suhu udara berkisar antara 18°C ‐ 23°C. Secara
umum Kabupaten Tojo Una‐Una dipengaruhi oleh dua musim yang tetap yakni
musim barat dan musim timur dengan iklim tropis. Curah hujan berkisar
antara 1.200 – 4.100 mm/tahun dan tempraturnya berkisar antara 17°C ‐
33°C sedangkan kelembaban udara antara 74 % – 82 %.
Persebaran dan Kepadatan Penduduk
Berdasarkan
hasil registrasi penduduk akhir tahun 2007, jumlah penduduk Kabupaten
Tojo Una‐Una adalah sebesar 129.708 jiwa, angka ini meningkat 0,61 %
bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang
mendorong peningkatan jumlah penduduk adalah arus migrasi masuk yang
cukup signifikan dimana sebagian besar diantara mereka adalah pendatang
yang bekerja dan mencari nafkah di daerah ini.
Ditinjau
dari aspek persebaran penduduk, berdasarkan hasil registrasi penduduk
pada tahun 2007 dimana proporsi jumlah penduduk terbesar berada di
kecamatan Ampana Kota yaitu 25,93 % selanjutnya urutan kedua dan ketiga
masing‐masing kecamatan Ampana Tete 16,31% dan kecamatan Ulubongka
10,77%. Sedangkan kecamatan yang proporsi jumlah penduduknya terkecil
adalah kecamatan Walea Besar hanya 3,01 % dari total penduduk Kabupaten
Tojo Una‐Una. sementara proporsi jumlah penduduk lakilaki dan perempuan
relatif berimbang yang di tunjukan oleh sex ratio dengan angka 103.
Tabel 2: PERSEBARAN DAN KEPADATAN PENDUDUK KABUPATEN TOJO UNA‐UNA TAHUN 2007
| No | Kecamatan | Jumlah Penduduk | % Terhadap Penduduk Kabupaten | Kepadatan Penduduk per Km2 |
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
| 1 | Tojo | 12.935 | 9,97 | 12 |
| 2 | Tojo Barat | 10.816 | 8,34 | 10 |
| 3 | Ulubongke | 13.975 | 10,77 | 8 |
| 4 | Ampana Tete | 21.155 | 16,31 | 27 |
| 5 | Ampana Kota | 33.637 | 25,93 | 142 |
| 6 | Una-Una | 12.811 | 9,88 | 43 |
| 7 | Togean | 9.839 | 7,59 | 43 |
| 8 | Walea Kepulauan | 10.639 | 8,20 | 70 |
| 9 | WaleBesar | 3.901 | 3,01 | 46 |
| Jumlah | 129.708 | 100 | 23 | |
Sumber: Kabupaten Dalam Angka 2007
Selanjutnya
dari aspek kepadatan penduduk, kecamatan Ampana Kota merupakan
kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi yang mencapai 142
jiwa/Km². Hal ini cukup beralasan karena kecamatan Ampana Kota adalah
ibukota kabupaten yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat
perekonomian. Sedangkan kecamatan Ulubongka memiliki kepadatan penduduk
hanya 8 jiwa/Km² sehingga merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk
terendah. Hal ini terjadi karena kecamatan Ulubongka merupakan kecamatan
terluas di Kabupeten Tojo Una‐Una sementara jumlah penduduknya tidak
sebanding dengan luas wilayah yang ada.
Langganan:
Postingan (Atom)